SIM Seumur Hidup, Kenapa Tidak ?

Salah satu isu yang akan diperjuangkan oleh Partai Keadilan Sejahtera adalah menjadikan masa berlaku SIM (Surat Izin Mengemudi) yang awalnya lima tahun menjadi seumur hidup. Wacana ini pertama kali dilontarkan oleh Wakil Ketua Tim Pemenangan Pemilu PKS Almuzzammil Yusuf di DPP PKS pada November 2018. Muzzammil menilai perbaruan SIM setiap lima tahun merupakan kegiatan yang merepotkan. Ia mencontohkan kebijakan KTP seumur hidup yang berefek positif pada penghematan waktu produktif masyarakat.

Isu ini sebenarnya bukan isu baru yang diangkat oleh PKS. Pakar transportasi Universitas Katolik Soegijopranoto, Djoko Soetijowarno pernah mengusulkan hal serupa pada tahun 2014 (beritatrans.com, 13 Desember 2014) Menurutnya, pemberian SIM A, B, dan C perlu diperpanjang. Kalau bisa jangan hanya setiap lima tahun, tapi diuji dengan benar sehingga kemampuan dan kompetensi pemegang SIM tetap prima. Tanpa pengujian yang benar, penerbitan SIM dijadikan modus mencari kekayaan bagi oknum tertentu, begitu jelas Djoko.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S. Pane pada tahun 2016 (republika.co.id, 2 Mei 2016). Menurut Neta, pelayanan di lingkungan lalu lintas sangat buruk karena terlalu banyak kepentingan yang “bermain”, mulai dari kepentingan tingkat tinggi dalam proyek pengadaan hingga kepentingan tingkat bawah, yaitu percaloan. Hal ini akan menyebabkan sulitnya mewujudkan pelayanan lalu lintas Polri yang ideal.

Kebijakan SIM, STNK, BPKB, dan TNKB seumur hidup bisa dengan efektif memangkas aksi percaloan. Menurut Neta, proyek pengadaan SIM, STNK, BPKB, dan TNKB bernilai lebih dari Rp 1,3 triliun setiap tahunnya. Belum lagi nilai uang yang berputar diantara para calo.

Negara-negara maju seperti Belanda telah menerapkan kebijakan SIM seumur hidup. Namun, kebijakan ini tentu saja harus diiringi dengan perubahan dalam proses mendapatkannya serta tindakan yang lebih tegas terhadap pelanggar lalu lintas.

Keuntungan SIM seumur hidup

Kebijakan SIM seumur hidup memiliki beberapa manfaat, terutama kepada rakyat. 

1. Menghemat Waktu

Melakukan pengurusan SIM memakan waktu hampir setengah hari. Dimulai dari antri, pendaftaran, tes tertulis, dan tes praktek sehingga banyak waktu produktif yang terbuang. Sebenarnya, proses perpanjangan SIM memakan waktu sekitar tiga puluh menit hingga satu jam, tergantung banyaknya antrian. Akan tetapi jika kita terlambat melakukan perpanjangan SIM maka kita harus mengulangi lagi proses pengurusan SIM yang memakan waktu yang panjang. Menghilangkan proses perpanjangan SIM membantu saudara-saudara kita yang terikat dengan rutinitas yang tidak bisa mereka tinggalkan dengan mudah. Mereka tidak bisa begitu saja meninggalkan aktivitas mereka karena hal itu mempengaruhi pendapatan mereka untuk hari tersebut.

2. Menghemat biaya.

Kalau dihitung, biaya yang kita keluarkan untuk pengurusan dan pepanjangan SIM tidak besar setiap tahunnya. Namun, bagi orang-orang yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk aktivitas sehari-hari dengan pendapatan harian, biaya yang diperlukan dalam pengurusan SIM cukup memberatkan bagi mereka. SIM seumur hidup akan meringankan beban mereka.

3. Menghilangkan Praktik Percaloan

Tak bisa kita pungkiri, praktik percaloan merupakan masalah besar dalam birokrasi, termasuk pengurusan SIM. Praktik ini tumbuh subur karena ada orang-orang yang tidak mau repot dalam melakukan pengurusan/perpanjangan SIM. Ketika SIM cukup diurus sekali dalam seumur hidup, praktik percaloan ini akan berkurang drastis dan bisa hilang sepenuhnya.

Perbaikan regulasi pengurusan SIM

SIM seumur hidup tidak berarti semakin mudah didapatkan. Perlu dilakukan perubahan signifikan dalam metode pembuatan SIM. Tujuannya adalah supaya setiap orang yang memiliki SIM benar-benar tahu, paham, dan menjalankan aturan, peraturan, serta etika di jalan raya.

Mungkin kita perlu belajar ke negara Belanda yang telah menerapkan SIM seumur hidup mengenai metode yang dipakai dalam tes kemampuan mengemudi, penguasaan rambu-rambu, dan aturan berlalu lintas.

Mempertegas tindakan pelanggaran

Selama ini, umumnya pelanggar lalu lintas hanya dikenakan denda tilang dan hanya beberapa kasus saja yang diberikan tindakan tegas. Hal ini tidak memberikan efek jera karena proses penilangan bisa diselesaikan dengan cepat, bahkan tak jarang bisa lebih cepat lagi dengan menyuap petugas kepolisian.

Untuk memastikan bahwa SIM digunakan oleh orang-orang yang benar-benar paham aturan lalu lintas, perlu diberikan tindakan lebih tegas terhadap pelanggaran aturan lalu lintas. Tindakan yang bisa diambil berupa meningkatkan denda tilang, seperti yang dilakukan Arab Saudi. Selain itu, perlu diberikan tindakan tegas seperti pencabutan SIM, lalu pelarangan memiliki SIM selama kurun waktu tertentu, bahkan seumur hidup untuk pelanggar lalu lintas tingkat berat.

Penyediaan SIM seumur hidup yang diangkat oleh PKS dalam Pemilu mendatang memiliki manfaat yang dirasakan oleh rakyat kecil. Akan tetapi, perubahan regulasi ini tentu harus diiringi oleh perbaikan pada sistem, metode, serta tindakan yang lebih tegas terhadap pelanggar lalu lintas.

Diharapkan dengan perubahan regulasi ini akan memangkas birokrasi, waktu, dan biaya dalam pengurusan dan perpanjangan SIM.